Skip to main content

Psychopath [Chapter Seven]

Awan kelabu berarak satu sama lain. Gulita menggantung di atas langit, seakan enggan untuk beranjak dari sana. Tidak terlihat lagi siluet senja di sore hari nan menawan. Hujan rintik-rintik turun membasahi bumi, seakan menyampaikan bela sungkawa darinya.
Suasana yang muram menyelimuti proses pemakaman Disty. Setelah menjalani proses autopsi dan segala macam, ia dimakamkan pada hari itu juga. Sesuai kesepakatan keluarga, ia dimakamkan di taman pemakaman umum.
Memang, pada awalnya kedua orang tuanya berniat menguburkannya di makam keluarga. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk memakamkan Disty disana agar ia tidak merasa 'sendirian'.
"Gue turut berduka cita ya, Nara," Rafael berbisik pada Kinara.
Kinara tetap menunduk, menyembunyikan paras cantiknya yang kini dibanjiri air mata. Baru kali ini ia merasakan kehilangan seorang sahabat untuk selama-lamanya. Tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa Disty akan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Apalagi dengan cara setragis ini.
"Iya, thanks, El," jawab Kinara.
"Lo harus kuat, Kinara. Ini cuma salah satu ujian dalam hidup. Kalau lo bisa melewati ini, itu membuktikan kalau lo orang yang kuat. Jangan sedih lagi, ya," hibur Rafael.
Kinara menggeleng, "Nggak bisa, El. Gue nggak bisa ngelupain dia. Setiap kali gue berniat buat ngelupain ini semua, kenangan gue sama Disty seakan diputar ulang di kepala gue! Gue nggak bisa!"
"Tenang, Kinara. Tenang..." ujar Rafael, "Disty nggak bakal tenang di alam sana kalau lo nggak ikhlas dengan kepergiannya."
"Gue ngerti..." isaknya.
Namun nyatanya, masih ada orang yang lebih terpukul dibandingkan Kinara. Calya, orang yang paling dekat dengan Disty pun mengalami hal serupa. Bahkan, gadis itu sempat tidak sadarkan diri ketika mendengar kabar kematian Disty. Kini, gadis malang itu tengah berada di rumahnya, menolak untuk melihat proses pemakaman sahabatnya.
Angela juga menolak untuk hadir. Ia benar-benar tidak bisa melihat proses pemakaman sahabatnya sendiri. Melihat peti matinya saja ia sudah merinding, apalagi melihat proses pemakamannya.
Hanya Luna, Kinara, dan Clara yang hadir disini. Hanya mereka yang terlihat tegar, walaupun di dalam hati mereka merasa begitu hancur. Rafael, Kanaya, dan Zafran juga menampakkan batang hidungnya disana.
Empat pria dewasa mulai menggali tanah menggunakan cangkul, lantas menurunkan peti mati Disty pelan-pelan. Setelah memastikan segalanya sudah selesai, mereka menutup kembali makam tersebut.
Sebuah nisan putih yang tertulis nama Disty lengkap dengan tanggal lahir dan meninggalnya ditancapkan di atasnya. Kedua orang tuanya menyiramkan air dari botol, dilanjutkan dengan beberapa orang yang menaburkan bebungaan.
Masih beberapa menit lagi sebelum proses pemakaman itu selesai. Orang-orang yang datang melayat mulai berjalan pergi meninggalkan pemakaman, setelah mengucapkan bela sungkawa kepada pihak keluarga Disty.
Begitu pula dengan Rafael dan Zafran. Kedua lelaki itu pun memutuskan untuk pergi bersamaan dengan para pelayat. Tugas mereka sudah selesai, tidak ada gunanya tetap berada disini. Lagi pula, sepertinya langit sudah siap untuk menumpahkan hujan.
Hanya kedua orang tua Disty, ketiga sahabatnya dan Kanaya yang masih ada disana. Mereka masih enggan untuk beranjak pergi. Oke ralat, semua orang kecuali Kanaya. Ia hanya menemani saudara kembarnya disana.
"Kinara, ayo pulang!" Kanaya ikut berjongkok di sebelah Kinara, membujuknya untuk pulang.
"Gue masih mau disini," tolaknya dengan suara semut.
Kanaya enggan untuk menyerah. Ia menepuk pundak Kinara pelan, "Ayo. Kita pulang sekarang. Sekarang mendung, Kinara. Sebentar lagi pasti hujan. Lo bisa sakit nanti. Nggak apa-apa, gue janji gue bakal temenin lo kesini besok. Kapan aja lo mau, gue pasti temenin lo. Asal sekarang kita pulang."
Kinara menatap batu nisan itu sayu, sebelum menyambut tangan Kanaya dan ikut pulang bersamanya, "Lo berdua bawa mobil sendiri-sendiri, kan?" tanya Kanaya kepada Clara dan Luna.
Mereka berdua mengangguk, "Iya. Kita pulang sendiri-sendiri, kok."
"Oke kalau gitu. Gue sama Kinara balik dulu ya," pamit Kanaya.
***
"Lo jangan sedih terus, Kinara. Lo harus bangkit dari rasa kehilangan lo. Lo bakal hidup menderita kalo lo nggak bisa relain dia pergi," ujar Kanaya.
Kinara tersenyum tipis. Kata-kata yang sama, namun diucapkan oleh dua orang yang berbeda. Ah, ralat. Belasan, bahkan puluhan orang sudah mengatakan hal tersebut kepadanya. Namun, dukunganlah yang ia butuhkan. Ia butuh lebih dari sekedar kata-kata.
Menyadari Kinara tetap terdiam, Kanaya memutuskan untuk mengambil alih percakapan, "Lo pernah denger nggak sih? Kalo misalnya seseorang meninggal, terus ada satu atau beberapa orang yang nggak ngerelain dia pergi, orang itu bakal tetap ada disini."
Kinara menatap Kanaya bingung, "Really?" tanyanya tak yakin. Ia sudah lima belas tahun, terlalu besar untuk dapat percaya begitu saja dengan kata-kata bernada menghibur dari orang-orang di sekitarnya. Ia sudah terlalu besar untuk itu.
Kanaya mengangguk, senyumnya mengembang ketika ia menyadari bahwa Kinara mendengarkan, bahkan menyimak kata-katanya, "Ya. Orang itu tetap ada disini. Dia bakal terus berputar-putar di antara dunia dan kehidupan selanjutnya.
"Dia terjebak di dua dimensi yang berbeda. Cuma keikhlasan dan ketulusan yang bisa membawa orang itu pergi ke kehidupan selanjutnya dengan tenang," tutur Kanaya panjang lebar, berharap hal itu dapat menghapus tangis dari wajah Kinara.
Dua langkah lagi menuju mobil, Kanaya mendengar suara teriakan dari arah pemakaman. Ia berbalik, mencari tahu apa yang sudah terjadi. Kejadian di sekolah waktu itu membuat telinganya berkali-kali lipat lebih sensitif dari sebelumnya.
"Suara apa itu?" Kinara buka suara, kata-kata pertamanya sejak beberapa jam terakhir.
Di satu sisi Kanaya begitu bahagia karena Kinara kembali berbicara. Namun, di sisi lainnya, ia begitu penasaran suara apakah yang baru saja didengarnya. Setelah berdebat dengan diri sendiri, ia memutuskan bahwa rasa penasarannya lah yang menang.
Ia menengok pada Kinara, "Ayo!"
Kinara mengerutkan keningnya bingung. Namun, sebelum Kinara sempat berkata-kata, Kanaya terlanjur menarik tangannya, memaksa dirinya untuk ikut berlari bersamanya. Sejenak Kanaya merasa deja vu.
Beberapa hari yang lalu, ia juga merasakan perasaan yang sama. Ketika Rafael menariknya pergi dari gudang, dan berlarian untuk melaporkan hal yang mereka lihat. Barangkali Kinara juga merasakan apa yang pernah ia rasakan.
Dalam hati kecilnya, Kanaya terus berdoa. Jangan sampai hal yang terjadi pada Disty terjadi lagi pada orang lain. Ia benar-benar tak sanggup melihat dan menyaksikan orang-orang di sekitarnya menderita. Cukup kematian Disty saja yang membuat mereka bersedih.
Mereka berdua terus berlari menuju sumber suara, dan menemukan Luna tengah berjalan kesana-kemari dengan gusar. Tangan kanannya mencengkeram ponsel lebih erat dari seharusnya. Dapat dipastikan bahwa ia sedang terkejut.
Ia nampak menekan-nekan layar ponsel miliknya, menempelkannya, pada telinga, lantas menurunkannya kembali. Sikap anehnya sukses membuat alarm tanda bahaya di dalam kepala Kanaya berbunyi nyaring. Sesuatu telah terjadi, dan itu buruk.
"Luna!" panggil Kanaya. Murid baru itu mengalihkan perhatian ke arahnya. Ia terkejut dengan kehadiran mereka berdua. Luna langsung saja berlari menghampiri Kanaya dan Kinara.
"Apa apa, Luna? Tadi gue denger ada suara or-"
"CLARA DICULIK!" serunya, "Dia diculik!"

Comments

Promo Menarik Hari Ini